Permainan yang memikat. Itulah penilaian saya waktu menonton Mesir melawan Kamerun dalam pertandingan final piala Afrika malam tadi. Kebetulan pertandingan ini disiarkan oleh TV5 dan dilihat langsung oleh mantan pelatih Chelsea Jose Mourinho.
Walaupun pelatih dan mayoritas pemainnya bermain di liga lokal, namun Mesir menunjukkan kehebatannya ketika melawan Kamerun yang mengandalkan pemain-pemain liga Eropa seperti Eto’o dan Geremi. Praktis, Eto’o tidak berkutik karena terus dimarking oleh bek-bek Mesir. Bahkan, skor mungkin akan lebih besar apabila kiper Kamerun tidak tampil gemilang malam tadi.
Mesir mengandalkan team work yang solid untuk melawan tim-tim negara Afrika yang mengandalkan keunggulan fisik dan stamina. Skill individu terlihat merata di segala lini. Hal ini berbeda dengan tim-tim Afrika lainnya yang lebih mengandalkan pelatih kelas dua dari Eropa dan bintang liga Eropa saja seperti Eto’o (Kamerun), Essien (Ghana), dan Drogba (Pantai Gading).
Btw, kapan ya pemain-pemain Mesir menjadi pemain utama di liga kelas satu Eropa (liga Itali, Spanyol, dan Inggris)?
Kutipan dari artikel di situs antara.co.id yang berjudul: Bola Voli : Indonesia, Tim Dengan Atlet Terpendek di Antara Unggulan.
Di antara empat tim unggulan pada Kejuaraan Bola Voli Indoor Asia Putra yang berlangsung 31 Agustus - 9 September di Istora dan Tenis Indoor Senayan, Jakarta, tuan rumah Indonesia adalah tim yang memiliki atlet dengan postur tubuh paling pendek.
Dari 12 pemain, tidak ada satu pun pemain dengan tinggi lebih dari dua meter, bahkan Ayip Rizal menjadi pemain paling tinggi meski dengan tinggi badan 193cm. Selain Ayip, ada tiga pemain lain dengan tinggi lebih dari 190cm, yaitu Nyoman Rudi Tirtana (191), Affan Priyo Wicaksono (190), dan Brian Alfianto (190).
Dengan postur tinggi 190-193 cm, sebenarnya peluang unggul di sepakbola cukup menjanjikan. Paling tidak, mereka bisa diandalkan ketika adu di udara dengan Toni, Viera, Drogba atau Peter Crouch. Apalagi pemain bola voli mempunyai lompatan kaki yang sangat tinggi.
Alangkah beruntungnya kita kalau pemain-pemain setinggi ini bisa bermain di tim nasional sepakbola kita. Karena mereka bisa menutup kekurangan-kekurangan timnas di sektor belakang (2 bek tengah), lini tengah (1 gelandang menyerang), dan lini depan menjadi penyerang. Sedangkan pemain yang bertubuh lebih pendek bisa ditempatkan di sektor sayap kiri dan kanan (seperti Roberto Carlos) dan gelandang bertahan (seperti Makalele atau Edgar Davids).
Indonesia diprediksikan akan menjadi salah satu negara dengan ekonomi terbesar di dunia setelah Amrik, China, India, Jepang, dan Brazil. Juga adanya visi Indonesia 2030 yang digodok oleh Yayasan Indonesia Forum dimana Indonesia diramalkan menjadi lima besar dunia. Walaupun masih sekedar prediksi, berita ini cukup menyegarkan setelah belakangan ini selalu mendengar berita-berita yang negatif terutama yang berkaitan dengan korupsi. Saya sendiri optimis Indonesia akan bisa masuk sepuluh besar pada tahun 2030 nanti.
Btw, yang menjadi harapan saya sebenarnya adalah tim sepakbola negara kita. Saya berharap Indonesia mampu lolos masuk turnamen Piala Dunia. Juga, ada beberapa pemain Indonesia yang merumput di Liga Inggris, Liga Itali dan Liga Spanyol. Dengan hal-hal seperti ini, nama Indonesia tentu akan semakin terdengar di seluruh penjuru dunia. Orang-orang yang ignorant, yang tidak bisa membedakan antara Indonesia dan Bali, paling tidak bisa dikurangi. Memang sih, jumlah penduduk tidak berkolerasi dengan prestasi di bidang sepakbola. Sama seperti nasib China, India, dan Amrik di bidang sepakbola dunia.
Tadi malam, saya bersama temen kos, Ibnu dan Ekky, menonton final Piala Asia di Senayan. Ini kali pertama, saya menginjakkan kaki di stadion kebanggaan negara kita he..he..he.. :D. Irak akhirnya menjadi juara setelah mengalahkan Arab Saudi dengan skor tipis 1-0. Kemenangan ini dirayakan dengan pesta kembang api setelah acara penyerahan Piala.
Kalau mau menonton video kembang api-nya, tinggal tekan tombol Play yang ada di bagian tengah kotak.